Rokok Nih….
July 12th, 2006 by konoks1
Jadi begini setelah saya pikir-pikir:
Saya, misal, sedang tak lagi ada kerjaan, pikiraan pun kacau, maka saya ambil rokok demi menghilangkan pikiran kacau itu. Maksud hati sih baik, supaya pikiran kacau mereda dan pikiran tenang terbit. Kemudian detik berlanjut dan datanglah kenyataan seperti ini: jangankan mengharap pikiran kacau mereda dan pikiran tenang terbit, malah pikiran menjadi semakin kacau-balau. Saya ambil lagi sebatang rokok, harapan di hati: mungkin tidak cukup sebatang. Tapi begitu-begitu juga jadinya.
Aneh bin ajaib kawan-kawan, tak merokok pun pikiran kacau. Entahlah. Dan saya tak sedikit pun ada maksud berilmiah di sini, tapi saya merasa sungguh-sungguh merasa dipermainkan.
Tak merokok pikiran kacau dan merokok pun pikiran kacau. Dari premis ini saya dapat simpulkan: memang dasarnya udah kacau.
2
Lantas, untuk apa kita merokok.
Di dunia ini memang ada beraneka-ragam fenomena-fenomena. Kita sudah tau apa yang disebuat gaya-gayaan dan sering pula kita gaya-gayaan. Salah satu, tentu, ambil misalnya rokok. Seorang kawan pernah menulis seperti ini: Apakah Rokok Itu untuk Gaya? Marah sekali saya waktu ia melihat tulisannya itu. Sekarang, setelah saya pikir-pikir, benar adanya seperti itu.
Di sisi lain, kita tau, gengsi itu kita dapat dengan cara membeli–membeli apalah, yang penting membeli. Salah satu cara dan memang paling ampuh, kita turut serta dalam permainan gengsi itu supaya kita bisa berada dalam suatu masyarakat, taruhlah geng-gengan misalnya. Dalam permainan domino kan seperti itu kawan-kawan. Anda bermain, ternyata tak punya batu enam, lalu pas; kemudian permainan perputar, dikasi pula batu lima, pas juga; kalau pas-pas terus, berarti kita tak punya daya dan lebih baik tak usah bermain.
Dan untuk apa juga pabrik-pabrik besar pembuat rokok. Kalau pernyataan seperti ini tak sanggup saya jawab, mungkin saya hanya bisa berkata singkat, "Bisnis Jang!!"
3
Permainan-permainan itu hampir selalu ada. Dan bagaimanalah mestinya kita hadapi bujukan-bujukan itu. Saya berpikir singkat saja, pepatah usang dari Kampung sih, tapi tak apa-apalah, berguna juga. "Kok takut gelombang, jangan berumah di tepi pantai," begitu kata preman kampung di dekat rumah saya. Saya sering menyamakan pepatah itu dengan ini: kalau takut basah, jangan bermain air; kalau takut rokok, berarti tak usah merokok. Dapat saya sederhanakan lagi, kalau memang ada rasa mual atau sejenis rasa yang tak bisa diterjemahkan lewat kata-kata sewaktu Anda melihat rokok atau orang merokok, tentu perlu dipendam keinginan untuk berdekatan dengan si perokok. Katanya perokok pasif itu berbahaya.
Sederhana kan, hidup gampang kok dibikin susah.