Akhirulkalam
Monday, December 10th, 2007Sudah lama ada keinginan dalam diriku untuk tidak lagi menulis. Di blog sudah lama tidak menulis. Kadang kita memang ingin selalu menulis. Tujuannya bukan untuk orang lain. Tapi karena, siapa tahu, di kemudian hari kita kepengen untuk mengenang masa itu. Boleh jadi, bila kita omongkan ke orang lain, teman-teman, atau sahabat, mereka gak percaya.
Belakangan, aku sering menulis sesuatu yang tidak aku pahami. Sesuatu, kebanyakan racauan saja. Mungkin karena tugas kuliah yang teramat banyak, waktu tidak berapa jam tersedia dalam seminggu untuk mengoreksi sebuah karya.
Namun, seiring usia terus melaju, aku bisa lagi mengenang hari itu. Di sebuah malam, putih rona lampu terpancar dari kejauhan, dari tiang listrik yang terpaannya menyentuh wajahku, menyelinap melalui kaca-kaca yang kesemuanya mengkilat. Di sebuah kursi, sudah larut malam, seorang anak memanggil ibunya. "Kenapa belum tidur," katanya. Si anak diam, lalu memalingkan wajahnya. Ia berpikir dalam jenak itu, "Kapan semua ini berakhir."
Di Air Haji, setiap kali aku bangun, tentu sudah tersedia tarian burung layang-layang di atas kepala, sapaan-sapaan yang menanya soal kabar, panggilan kesayangan, rombongan anak sekolah, teman-teman semasa kecil, sorehari, teriakan kesayangan. Di malam itu, seorang anak pergi ke dapur, lau ke ruang tamu. Ibunya berkata, "Kapan kau bisa ambilkan air minum buat ibu."
Tentu saja yang membuat aku rindu Air Haji adalah ibuku. Kemudian kuburan ayah. Terus, kenangan-kenangan masa kecilku yang tergores di jidat-jidat teman-teman lamaku. Nostalgia di kedai kopi, lalu kartu remi, permainan tanpa taruhan namun membahagiakan. Dan televisi di sudut kedai hanyalah jadi tertawaan saja, lalu klub kesayangan yang hanya menang tipis, dan teriakan membabi buta kepada seorang pengendara motor yang terlalu ngebut.
Suatu sore, aku bisa saja hadir di jembatan itu, melihat dari kejauhan, rimbunnya dedaunan dan mengalirnya air sungai yang memercik seperti kaca pecah. Lalu teriakan anak-anak, lalu seorang kawan. Dan pernah, dalam waktu yang seakan tidak mau melaju, aku membayangkan, andaikan di sore itu aku tidak mau beranjak, tentu waktu akan meinggalkanku. Lalu malam. Dan aku lalu menyalakan sebatang rokok. Dengan memasukkan sebelah tangan kananku aku sudah mengenakan jaket. Dari kejauhan, sorot lampu mobil-mobil menerpa mukaku, lalu seorang teman berteriak dari atas sebuah motor,"Nah, ini dia. Ke mana saja kau. Dan kau tampak kurus." Dia memberikan kemudi motor kepada temannya. Lalu turun dengan keakraban tanpa tanding.
Kemudian, kami berjalan di sepanjang jalan raya itu. Pelan-pelan melewati kedai-kedai dengan jago-jago tongkrongan, dengan sobekan celana di lutut, kadang kalau dipandangi terkesan sinetronan. "Main kau tidak peke teknik."
Dan di sepanjang jalan itu kami hanya ngobrol soal kekonyolan-kekonyolan di masa Sekolah Dasar, lalu Sekolah Menengah Pertama.
Di Padang, yang membuat aku rindu segalanya ialah ketenangannya di malamhari. Sebuah kota tanpa deru, dan di sebuah depan Rumah Sakit aku merenungi lagi nasib waktu, memandangi lagi kesunyian kota dengan jalanan tanpa kabut. Seorang teman pernah hadir di sana. Dan aku, tanpa berbasa-basi mengingat mukanya lewat senyumnya yang selalu mengatakan, "Kau yang bayar."
Besok, dan di kejauhan nampak suara langit mengaum dan awan-awan lalu angkot-angkot dan jendela langit memancarkan percikan tanpa ampun ke muka pejalan kaki. Pernah, sepulang dari bandara, aku melihat kenangan pada sebuah warung kelontong. Aku pernah hadir untuk dirinya saban pagi setiap aku berangkat sekolah. Yang membuat aku terkenang padanya tentu saja patuah-patuahnya. Pernah, sebuah tali rebab putus di tanganku ketika ia mengajariku bermain biola dengan tiga dawai itu.
Namun, di Jatinangor aku melihat kenangan itu melalui gelasku pagihari. Lalu pintu kamar. Lalu dinding. Dan itulah benda-benda yang bisa kumiliki setiap kali aku mau.