An Die Muse
Saturday, September 8th, 2007An die Muse
(Was ich ohne dich ware, ich weiB es nicht; aber mir grauet,
Seh ich, was ohne dich Hundert’ und Tausende sind)
Kepada Dewi Kesenian
Tak kutahu macam apa aku tanpa dirimu; tapi kungeri,
Melihat cara hidup beratus ribu tanpa dirimu
—Johann Wolfgang von Goethe—
I.
Ya, daripada saya teriak-teriak di bawah pohon rindang dan nendang-nendang meja yang ada di situ di depan Teman-Teman Jurnal, lebih baik saya tidur siang di kosan. Dengan syarat, terlebih dahulu musti ditanjapkan ke hati, saya gak jumatan. Kan minggu lalu sudah jumatan, jadi tiada salah sekali-kali tidak ikut.
Ojek yang saya tumpangi, dari FIKOM, belum lagi saya duduk di atasnya, sudah merengek-rengek hendak mengantarkan saya ke kosan, Warung Kalde. Setelah berjuang menaikkan kaki sedemikian rupa, akhirnya dapat juga saya duduk dengan tenang di belakang tukangnya. Dan motor melaju terburu-buru sekali: masuk ke gigi dua, menderu bunyi mesinnya; masuk ke gigi tiga melonjak sedikit pada bagian depan banya.
Terus saja melaju kencang dan tentunya, pas ada polisi-tidur, direm dan meangguk-anggukalah motor itu. Masih adalah itu sedikit emosi tak terkendali dari tukang ojeknya. Mungkin, mengingat hari sudah siang, setoran gak cukup-cukup juga, ia dengan target yang mencengangkan merasa bersalah bila gak ngebut.
Tanpa sempat menghayalkan hal yang baik-baik, saya terkaget ketika tukang ojek memalingkan mukanya yang terbungkus pada bagian rambutnya helm norak—gak cocok deh, ama kulitnya yang hitam dengan warna helm yang merah menyala seperti hati ayam.
“Ke mana A’?”
Sudah tiba di jalan tempat Anak STPDC biasa latihan. Saya hampir mau bilang, “Ya udah atuh, ke mana angin berembus aja sekarang.” Namun, saya tersadar. Saya bilang, “Terus aja, ntar dekat pohon besar belok kiri.”
Emang belok kiri itu tukang ojek. Di kanan, pada sisi yang lain, marilah kita lihat: air waduk gemulai ditiup angin siang yang lembut seperti gemulainya angin pada daun-daun di bukit-bukit pada senjahari dan bergelombang seperti gelombang rambutmu; dan air itu tampak hijau, dan seorang anak menceburkan dirinya ke dalamnya, memercak sekencang-kencangnya percik-percik air ke langit, dan di langit matahari begitu terik dan saking teriknya ada pelangi di awang-awang.
Pelangi
Indah bening matamu/
merekah indah bibirmu/
pesona pancarkan dari jiwamu//
jauh kau kudekati/
jauh kau simpan sunyi/
tawarkan satu irama terjadi//
(Boomerang)
II.
Terangguk-angguk sedikit kepala saya ketika motor memasuki jalan-setapak. Akhirnya nyampe dan motor berhenti. Pada telapak tangan tukang ojek yang menampung, saya tempelkan duit ongkos.
Dan, saya tanpa singgah dulu di warung Mbak, beli rokok, langsung berjalan ke pintu kosan—kali ini dengan kesabaran yang teratur, tidak main tendang seperti biasanya–naik ke lantai dua. Sungguh tak perlu saya ceritakan semuanya. Singkatnya, saya mengambil kertas dari laci meja.
III.
Selesai sudah akhirnya dan saya mengambil gitar yang tergantung kesepian dan bisu pada dinding putih, tak jauh di belakang tempat saya duduk. Lalu, saya buka jendela lebih lebar lagi sehingga biru langit dan putihnya awan tampak lebih nyata.
Tiada lagi yang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal,
Duduklah diri beristirahat, tahanlah dada yang meneyesak
Lihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela
Atau nikmatkan lagi lukisan-lukisan di dinding pemberian teman-teman kita
–Fragmen, Chairil Anwar—
Kita saksikan hari jadi cerah, jadi mendung,
Mega dikemudikan angin
–Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita……
Melupakan dan mengenang
Kau asing, aku asing,
Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilang
Kau menatap, aku menatap.
Kebuntuan rahsia yang kita bawa masing-masing
Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung?
Lupa diri terlambung tinggi?
Dan juga
Diangkat dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain
Mengungsi dari kota satu ke kota lain? Aku
sekarang jalan dengan satu setengah rabu.
Dan
pernah percaya pada kemutlakan soal………
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuan
memperlepas datang siang? Adakah
–Fragmen, Chairil Anwar—
Kemudiaan: saya tidur.
IV.
Terbangun saya kira-kira pukul empat. Dan, gitar masih di lantai-karpet. Saya, sejenak, menghirup nafas dulu. Saya duduk di kursi dan saya, walau sudah bangun, masih merasa, dalam jenak, dimabuk oleh yang itu-itu juga, seseorang yang itu-itu juga. Akhirnya sebuah gitar yang saya petik.
Seperti yang Kau Minta
Maaf kan aku tak bisa memahami/
Maksud amarahmu/
Membaca dan mengerti/
Isi hatimu//
Ampuni aku yang telah memasuki/
Kehidupan kalian/
Mencoba mencari celah/
Dalam hatimu///
/Aku tahu ku takkan bisa/
Menjadi seperti yang engkau minta /
Namun selama nafas berembus/
Aku kan mencoba…/
Menjadi seperti yang kau minta//
Aku tahu dia yang bisa/
Menjadi seperti yang engkau minta/
Namun selama aku bernyawa/
Aku kan mencoba/
menjadi seperti yang kau minta//
(Chrisye)
V.
Romansa Raban
Federico Garcia Lorca
terjemahan: Ramadhan K.H
Hijau, aku cinta padamu hijau.
Hijau angin. Hijau dahanan.
Kapal di atas lautan
dan kuda di pegunungan.
Dengan bayangan di pinggang
dia tidur di sandaran
Rambut hijau, hijau daging,
dengan mata perak dingin.
Hijau, aku cinta padamu hijua.
Di bawah bulan gitana
pada menatap segala benda
dan ia sendiri menutup mata.
Hijau, aku cinta padamu hijau.
Bintang besar kabut putih
datang dengan ikan bayangan
membuka jalan pagi hari.
Pohon ara mengelus angin
dengan ambril dedahan,
dan gunung, kucing pencuri
mendirikan serabut duri
Tapi siapa akan datang? Lewat mana……..?
Dia diam di sandaran,
rambut hijau, hijau daging,
laut pahit termimpikan.
–Pak, aku mau menukar
kudaku dengan rumahmu
tungganganku dengan cerminmu,
pisauku dengan selimutmu.
Pak, aku datang berdarah
sejak lewat gerbang Kabra.
–Nak, jikalau bisa,
kehendakmu kusetujui
Tapi aku bukan aku lagi,
rumahku jua bukan rumahku lagi
–Pak, aku mau mati
di katilku dengan layak,
katil baja, jika bisa
dengan sprei kain lena.
Tak lihat luka kupunya
Sampai leher dari dada?
–Tiga ratus mawar hitam
di bawah kain dadamu putih.
Darahmu terisap bau
hertetes sekitar sulbi.
Tapi aku bukan lagi aku,
rumahku jua bukan rumahku lagi
–Sedikitnya biarkan aku naik
sampai sandaran paling tinggi
biarkan aku naik, biarkan,
sampai sandaran rupa hijau.
Tempat sandaran bulan,
menurun air bergaung.
Sudah naik kedua kawan
ke sandaran paling tinggi.
Ninggalkan bekas berdarah
dan jejak mata berlinang.
Gemetar atap di atas
lampu jalan papan timah.
Seribu pemukul tambur
membuat mentari timbul.
Hijau, aku cinta padamu hijau.
Hijau angin, hijau dahanan.
Sudah naik kedua kawan.
Angin panjang meninggalkan
di mulut rasa janggal,
bunga basil, empedu dan mata uang –Pak!
Di mana anakmu,
bilang, anakmu yang pahit itu?
Berapa kali ia menanti sudah,
berapa kali dia nantikan engkau,
muka segar, rambut hitam,
menunggu di sandaran hijau!
Di permukaan cadangan air
goyang berayun si gitana.
Rambut hijau, hijau daging,
dengan mata perak dingin.
Tetesan es dari bulan
menolaknya di atas air.
Malam turun sederhana
serupa ruangan kecil terbuka.
Gurdian civil pada mabuk
memukul di pintu gerbang.
Hijau, aku cinta padamu hijau
Hijau angin. Hijau dahanan. Kapal di atas lautan.
Dan kuda di pegunungan.
VII.
VIII.
Sehabis mandi, lalu sholat Magrib, saya tercenung sebentar di kursi, di dekat jendela. Perut belum lagi lapar. Saya duduk di kursi, dan memandang kepada buku-buku di rak dan kertas-kertas yang tersusun rapi di meja yang belum saya sentuh. Tak ada satu pun yang berdebu. Secangkir teh dan sebatang rokok, sebelumnya saya sudah pesan ke Mbak, diantarkan oleh Bayu. Tiada percakapan yang berarti dengan Bayu, sebab dia baru SMP dan ketika dia sudah meletakkan menu itu di meja kecil di samping saya duduk saya hanya bisa bilang, “Ntar gelasnya jemput ya. “ Saya membakar sebatang rokok dan meminum secangkir teh. Masih saja, rasanya, dimabuk oleh yang itu-itu juga, seseorang yang itu-itu juga.
Mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam
dari kecemasan sampai ke istirahat-dalam-kecemasan;
cerita surya berhawa pahit. Kita bercerai begini-
Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi
Dan apa yang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, rahasiakan
Yang bukan-penyair tidak ambil bagian
(Fragmen, Chairil Anwar)