SUNSANG

Di kedai kopi barusan. Aku tak punya alasan lain, kecuali, musti kukatakan, kafe-kafe musikal tidak lagi menyentuh pada diriku  malam ini. Segelas kopi pada cangkir hitam dan kita disuguhi pemandangan: wanita seksi dengan senyuman sungging mengatakan: silahkan, minuman yang paling Lu suka; dapat kutampik dengan minuman sederhana: secangkir teh hangat dan sebatang rokok, berputar asap putih ke langit-langit kedai, dan hiasan satu-satu di depan mata hanyalah koran pagi tadi.

Habis dari Jakarta, aku terlentang di kasur, tertidur. Sebelumnya, di atas bis, aku berpikir, ternyata gak jadi masuk tabung. Di Bogor, kakakku sudah pula menertawakanku, ah gak apa-apa, katanya. Tapi ini, kataku: nyat-nyut di kepala, dada sakit, punggung  sakit, pikiran kacau, sandal belang, pintu kosan copot, ember pecah dua, gelas gak tau melayang ke mana,  dan baju bisa ketinggalan di jendela.

Di kedai kopi aku berpikir, dalam jenak itu, aku, sebisa mungkin, ke depannya, duluan meneleponnya. Hubungan kami begitu mesra, seperti sepasang kekasih yang tak bertemu selama tujuh tahun, dan sekarang ngobrol (dia bukan pacarku, melainkan ibuku).

Dan, sekarang setelah mengetahui IPK-ku sudah di-list putih, aku tidak menginginkan yang di luar batas kemampuan diriku. Semuanya menjadi nampak serba kaku dan asing, aku tertawa sendiri di malam buta, merangkak mencari cerita kesayanganku bila mata gak bisa tidur, Father and Son.

Aku belum bisa mengatakan kepada seorang wanita di Jakarta sana, ya udah, berkibar dan terbakar bila itu yang terjadi, bila itu maunya Ratu Inggris: seperti syair Abdullah Munsyi Terbakar, Singapura Terbakar.

Aku cuma satu semester punya IPK di atas Dua, Semester I; dalam keadaan diejek di sana-sini, aku  terbungkam dan pernah dikatakan cuma bisa nulis-nulis puisi doang, goda-godain cewek di testi, dan ketawa-ketiwi besoknya di kampus, bilang,"Kena itu ama gue!" . Tak masalah bagiku. Agama, Filsafat, Politik, Ekonomi, Sejarah, dan lain-lain: menurutku bakalan masuk angin dan keriput bila tak diletakkan di rak yang paling tinggi sebuah deretan buku-buku: Sastra.

Semuanya setali tiga uang. Albert Camus pernah berseru: "Untuk Perjuangan, Keadilan, dan Cinta."

Dan, Anda tahu, siapa filsuf yang pernah bisa menjadi Nabi dan menghilangkan salah satu dari setali tiga uang tersebut, dia adalah Karl Marx–gue gak pernah bisa membayangkan Marx bisa tertawa riang; tawanya kalau gak mengejek, ya memusuhi.

Lalu, usaha-usaha untuk mencopot setali tiga uang tersebut terus terjadi, mula-mula dilakukan oleh Stalin (yg terbesar), dan yang paling monumental kemudian adalah Hitler–kalau ketemu ama gue di Warung Kalde pas lagi sendiri lawan sendiri, gue cukur pake pisau itu kumis dan terlemparlah ke Waduk Perikanan sana.

Nampaknya, sebuah anggukan di kepala Aa barusan membuatku sadar, bahwa itu semua, musti dibayar besok, pas mau berangkat kuliah. Dan duit di saku celana pendek buat ekspresi di blog.

Atau, saat aku mengenang semua kejadian-kejadian yang silam, yang berangkat dari nostalgia belaka, dua hari dua malam gak tidur–tidur juga sih, sejam dua jam, tapi antara iya dan tidak–aku berkata paginya: untuk apa? Gue bakar ini kertas-kertas, semuanya sudah melampuai tulus dan semuanya sudah menjadi ambisi tak terkendali, dan saya gak bisa, terbakarlah engkau kertas-kertas seperti syair Abdullah Munsyi, Singapura Terbakar!

Saat aku memencet delete pada judul blogku, Dua Obrolan pada Sore dan Malam Hari, Semuanya Setali Tiga Uang; dua orang itu bertengkar, pada penghabisan obrolan, apa musti tuliskan puisi Lorca, Perempuan Tak Setia; atau Pablo Neruda, I Like for You to Be Still.

Dan, Warnet ini bercatkan merah jambu pada malam ini, aku teramat ingin menyelimuti tirai putih di antara dua sudut dindingnya, dan aku, dengan kuas mungil yang kupunya menulis:


I Like For You To Be Still

Pablo Neruda

Translated by W.S. Merwin

I like for you to be still
It is as though you are absent
And you hear me from far away
And my voice does not touch you
It seems as though your eyes had flown away
And it seems that a kiss had sealed your mouth
As all things are filled with my soul
You emerge from the things
Filled with my soul
You are like my soul
A butterfly of dream
And you are like the word: Melancholy

I like for you to be still
And you seem far away
It sounds as though you are lamenting
A butterfly cooing like a dove
And you hear me from far away
And my voice does not reach you
Let me come to be still in your silence
And let me talk to you with your silence
That is bright as a lamp
Simple, as a ring
You are like the night
With its stillness and constellations
Your silence is that of a star
As remote and candid

I like for you to be still
It is as though you are absent
Distant and full of sorrow
So you would’ve died
One word then, One smile is enough
And I’m happy;
Happy that it’s not true

Leave a Reply