Sahabat, Saya, dan Malam Merdeka
Ada yang lain rasanya pada diriku setelah menenyelesaikan empat mata kuliah, semuanya tiga SKS, suatu rasa yang membawa kita melancong ke Harvard.
ujung-ujung daun-daun
pucuk-pucuk daun-daun
angin menghembus di urat nadiku:
daun daun: ujung ujung pucuk pucuk
Dan, belum juga datang pucuk dicinta ulam pun tiba
Tidak, sama sekali tidak. Saya, Samuel, dan Nanda nongkrong di FIKOM, dekat nilai on-line.
"Bagaimana Bung," kata Sam. "Katanya sudah monumental."
"Monumental apaan, yang duniawi aja mulai kehabisan puisi."
"Gue barusan ngeliat yang surgawi Bung."
"Nah, bagus itu. Jangan-jangan sayap-sayap malaikat, itu juga orangnya."
"Gak, sebening gelas kristal. Bawa bokap nyokap."
"Ke Saiyo aja," kata Nanda
———————————————————————————-
Di Saiyo, sehabis makan, ngobrol masalah kuliah-menguliah dan Kuliah Kerja Nyata, dan kabar-kabari lainnya. Kuliah beres dan KKN bagaimana?
"Sukses besar," kata Nanda
"Dan berapa orang yang terkapar, Pancaroba."
———————————————————————————-
Dari Saiyo, berjalan saya dengan Nanda, pada siang yang terik dan angin kering dan dingin, di sepanjang trotoar depan Saiyo, lalu ke kosan, Warung Kalde. Melambai dan angin bertiup, debu-debu, di pagar-pagar, dengan tiang bambu: bendera Merah Putih dan Umbul-Umbul warna-warni, berjejeran. Saya lihat, remaja-remaja, kurang lebih sepuluh, otak-atik bambu. Menurut keterangan mereka, buat pawai besok.
"17 agustusan A’."
Merdeka 100%.
Terus, berjalan beberapa langkah, beli rokok dulu. Nyampe di kosan, sebelum melaju ke lantai dua, masak air panas pake kompor di dapur, lantai bawah. Menunggu.
Ibu pernah bilang, "Buat latihan kesabaran."
Selesai.
Mengepul dari dua cangkir asap yang tak begitu putih. Sebungkus rokok mild terletak, menanti, di meja.
"Ini seperti apartemen, tapi agak beda dari apartemen Andreas Harsono, dia mah termasuk flamboyan."
"Motor ketinggalan di Subang. Body-nya patah."
"Bisa patah."
"Maksud hati baik, ya, ane kan ada motor. Dibilangin, kalau ada perlu pake aja. Dipake buat hura-hura, mabok-mabokan ke kali ama dia, boncengan, jalan batu-batu gitu. Rp 300 ribu! Duit lagi."
"Kira-kira gimana kesepakatannya."
"Ya…dia mau bayar setengahnya."
———————————————————————————-
Sorenya Nanda pulang.
Tiba-tiba saya teringat Ode to the Sea.
Dan saya ke bawah, ke kamar Agus.
"Kemarin maennya bagus," katanya.
"Seperdelapan bagian, habis pembersihan dada di Bogor, sekarang gue mau minjam gitar."
"Sok, ambil aja."
———————————————————————————-
Kembali saya ke apartemen kecil saya, sendiri.
Sepi di luar, sepi menekan-mendesak
Lurus-kaku pohonan Tak bergerak
Sampai ke puncak
sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencekung punda
Udara bertuba
Rontok-gugur segala. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.
(Hampa, Chairil Anwar)
———————————————————————————-
Benar-benar ingin mengenang laut rasanya, tapi, kali ini bukan laut tok. Bukan: laut seluruhnya. Ada seseorang yang musti kukenang.
Saya keluar dari kamar. Berjalan ke bawah. Berjalan hingga ke kedai. Pesan rokok ke Mbak, dan saya bilang, "Boleh maen gitar gak, depan warung?"
"Sok," katanya. "Tapi gratis."
Di kursi goyang rotan yang sudah reot, sembari membakar rokok, saya, dengan gitar di tangan, melihat remaja yang akrab, kerjasama dalam keakraban, semangat 45. Walau berdebu sekalipun tiupan angin.
Mata Dewa
Iwan Fals
Di atas pasir senja pantai kuta
Saat kau rebah di bahu kiriku
Helai rambutmu halangi khusyukku
Nikmati ramah mentari yang pulang
Seperti mata dewa… seperti mata dewa
seperti mata dewa… seperti mata dewa
Aku berdiri tinggalkan dirimu
Waktu sinarnya jatuh di jiwaku
Gemuruh ombak sadarkan sombongku
Ajaklah aku wahai sang perkasa
Seperti mata dewa…seperti mata dewa
seperti mata dewa…seperti mata dewa
Reff:
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lepaskanlah aku
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lepaskanlah aku
Senja di hati
Lidah gelombang jilati mukaku
Belaian karang sampai di tubuhku
Jingga matahari ajak aku pergi
Kasihmu tulus setulus indahmu
Seperti mata dewa
seperti mata dewa
seperti mata dewa
seperti mata dewa
Reff:
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lepaskanlah aku
Yang menangis tinggalkan diriku
Yang menangis lepaskanlah aku
Senja di hati
Seperti mata dewa… seperti mata dewa
———————————————————————————-
Sehabis sebuah lagu itu, saya mengembalikan gitar ke kamar Agus. Saya membeli rokok sebatang lagi. Lalu berjalan pelan-pelan ke arah danau kecil. Berjalan terus, sembari melihat sawah, pucuk pohon pisang, lembah, bukit, dan kehijauan daun-daun.
Milik siapa hutan ini aku rasa aku tahu
tahu
Rumahnya di desa ini, namun;
Dia tak kan melihatku berhenti di
sini
Untuk menyaksikan hutannya
penuh dengan salju.
Kuda kecilku pasti berpikir ini
aneh
Untuk berhenti tanpa ada
peternakan di dekatnya
Antara hutan dan danau beku
Sore paling gelap di tahun ini
Kudaku menggoyangkan talinya
Untuk bertanya apakah ada
kesalahan
Suara lain yang ada hanya desiran
Angin lembut dan butir salju
halus.
Hutannya indah, gelap dan dalam
Tapi aku punya janji yang
kupegang
Dan bermil-mil sebelum aku tidur
Dan bermil-mil sebelum aku tidur.
(Stopping by Woods on a Snowy Evening, Robert Frost)
———————————————————————————-
Selesai makan malam di Saiyo, saya berdiri sejenak di depannya. Saya memandang, berderet bendera Merah Putih, berselang seling dengan Umbul-Umbul warna warni. Cahaya mobil-mobil dan menyilaukan, besiliweran. Seakan-akan mereka akan menyalipku.
Sebuah mol, bendera iklan lebih kencang lamabaiannya daripada bendera Merah Putih dengan bendera umbul-umbul warna-warni. Terhiasi lampu-lampu iklan nama-nama Amerika dan Jepang, sebuah mol. Orang-orang lalu-lalang dengan aneka dandanan, dan tampak seolah-olahan bagiku, di bawah semburan cahaya lampu jalanan dan silauan lampu kendaraan, sebuah mol. Transparan, pada dindingnya, tinggi; pada kacanya, meriah dan mengkilat, orang-orang lalu-lalang, sebuah mol. SPG (Sales Promotion Girl), sebuah mol!
Terasa hari akan jadi malam,
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
di pukul angin yang terpendam.
Aku sekarang orangnya bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan,
bukan dasar perhitungan kini.
hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum akhirnya kita menyerah.
(Derai-Derai Cemara, Chairil Anwar)
———————————————————————————-
Dari tempat saya berdiri, saya kembali pulang. Berjalan lagi seperti tadi siang. Duduk lagi seperti tadi sore. Masih, para remaja dalam keakraban. Dan malam, malam, lampu menaburkan cahaya putih ke mukaku. Saya duduk lagi di kursi goyang rotan tadi sore, tanpa gitar. Kembali.
"Teh hangat ama rokok sebatang."
"Gak setengah A’," kata Mbak.
"Dada baru bersih."
Tak berapa lama, dengan sebuah meja Mbak datang, meletakkan secangkir teh dan sebatang rokok, teriringin sura malam oleh lemparan ringan sebuah rorek api, tergeletak di atas meja, mengersik di tripleknya. Angin terasa sejuk dan suaru deru-menderu kendaraan dari jalanan seolah-olah terekam pada tembok mati di seberang sana, jauh sekali dari tempat saya duduk.
Saya duduk, mengecup teh, memandang langit nan tinggi.
PAGI (Sajak IV)
engkau sesederhana sebelah tanganmu
mungil, duniawi, transparan, bulat.
gurat apel, lingkar bulan.
engkau sesederhana malam-malam di Jatinangor
adakalanya berbintang, adakalanya tidak.
awalnya kubilang ya,
lalu tidak,
lalu tidak;
tidak,
lalu iya.
malam di Jatinangor yang sederhana:
orange dan putih kedip lampu di bukit-bukit
banyak pilihan tempat buat makan,
angkotnya murah.
Dan, sebuah saja tempat yang nyaman untuk singgah;
entah itu kamarmu, entah itu kamar temanmu.
sesederhana baju coklatmu:
tiada bergambar
sesederhana kamarmu mungkin:
gak ada gitar, gak ada piano, atau biola.
melambai, teruslah engkau melambai
meliuklah seperti sewaktu engkau dilahirkan
melankolis seperti sewaktu dicium ibumu
pertamakali.
Melambai, teruslah engkau melambai
melambai engkau sesederhana padi-padi di sawah nan hijau:
diselimuti pagi.
Melambai engkau: Menggelisik ditiup angin
———————————————————————————-
Saya masih duduk dan rokok sudah habis, teh tinggal setengah. Ibu-ibu datang dan menanyakan kepada saya, jadi apa kagak meliput pawai besok pagi. Saya bingung, apakah mereka bisa membaca liputan saya. Saya kan cuma bisa reportase di blog. Dan, tak ada waktulah untuk buatkan kertas bulletinnya.
Salah seorang dari mereka berkata: "Di sini cuma kesenian lokal."
Saya jadi teringat sewaktu SD. Saya sudah minta kepada ibu guru untuk jadi petani, seperti ayah saya; tapi saya diberikan baju ulama. Saya gak mau dan tidak jadi ikut pawai.
———————————————————————————-
Saya masih duduk dan saya berpikir, andai malam: kepada malam: ini bermula pada pagi. Dan pasti, akan datang juga siang.
Untuk Setangkai Ice Crime
kepada pagi: tentunya
termangu dan melamun
melamun dan dilamun
hadir atau tiada hadir
padi-padi nan hijau
basah lalu kering diterik mentari
lambaianmu terlihat rendah hati.
Pejam mataku, pejam matamu
pada sol sepatunya nan sunyi
ada laguku
lagu dan tangga
nada
pada langkahnya nan sunyi
ada laguku
———————————————————————————-
Ya, kelamaan di warnet kepergok pula ama Imam nanti. Atau lebih lama lagi, kepergok ama Kak Mimit. Sudah jam tayang mereka.
Atau, apabila kurang beruntung, ketahuan ama Kang De, bilang, "Ngapain No, malam-malam ngetik. Siapa tau No ya, jadi terkenal."
Ya, siapa tau, sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui.
Kalau diulang lagi ama Kang De, saya menjawab begini: "Selamat malam Karl Marx, di sini Abdullah Munsyi, "gila" mana?"
———————————————————————————-
buat Pagi dan Untuk Setangkai Ice Crime
THE AMULET
Ralph Waldo Emerson
Your picture smiles as first it smiled,
The ring you gave is still the same,
Your letter tells, O changing child,
No tiddings since it came.
Give me an amulet
That keeps intelligence with you
Red when you love, and rosier red
And when you love not, pale and blue.
Alas, that neither bonds nor vows
Can certify possesion;
Torments me still the fear that love
Died in its last expression.