Archive for August, 2007

OBROLAN

Wednesday, August 22nd, 2007

PENGANTAR

Sebelumnya, blog ini sudah pernah publish dengan title: Dua Obrolan pada Sorehari dan Malamhari, Semuanya Setali Tiga Uang. Lalu, dengan alasan yang sepele bagi kebanyakan bloger mungkin, saya menekan tombol delete, karena di sana-sini belum lagi klop betul tata bahasanya dengan tanda bacanya; serta sebab-musabab lain, yang tak bisa saya jelaskan begitu saja.

Dan, setelah melewatkan beberapa malam pada musim pancaroba di Jatinangor, saya berpikir untuk mem-publish-kannya lagi, dengan pengubahan, dibagi ke dalam dua bab.

Pada akhirnya, saya harus nyatakan juga, bahwa semua ini hanyalah ciptaan semata. Nabokov pernah bilang, “Menganggap ciptaan sebagai kenyataan adalah penghinaan terhadap kenyataan. Ciptaan adalah ciptaan dan kenyataan adalah kenyataan.”

Sedikit informasi, sewaktu meng-edit ini, telinga saya dibuai sebuah lagu lama yang diaransemen ulang, Anggrek Bulan judulnya.

I.

Suatu sore pada penghujung Semester V aku mampir di kosannya, setelah seminggu lebih tidak melihatnya di kampus. Terakhirkali melihatnya di kampus, ia kelihatan berubah, penampilannya berubah, mukanya serius seperti orang mau melamar kerja di perusahaan yang diimpikan selama empat tahun oleh kebanyakan orang yang studi di universitas. Ia rapi, pake kemeja, dan sepertinya kemeja dan celana jinsnya baru beli—pake map segala.

Aku bertanya kepadanya waktu itu, apa isi mapnya. Surat berhenti kuliah, katanya. Ia duduk di dekatku, di bawah kanopi depan gedung dua, tak jauh dari pohon mangga.

“Boong,” katanya. Ia membuka map bewarna kuning itu. “Lu liat, saya diberi keringanan ama Bu Herlina. Saya disuruh sungguh-sungguh. Ini surat adalah pernyataan kesungguhan.”

Tapi itu bohong lagi. Surat itu sendiri tidak pernah sungguh-sungguh. Akhirnya ia mengaku, kalau dia lagi tak punya duit buat beli rokok. Karena di kosan cuma ada map, maka maplah yang jadi korban sebagai pegangan tangannya ke kampus.

Sewaktu sore itu aku membuka pintu pagarnya, ia sedang duduk bersila seperti pertapa di teras kosannya dan aku berteriak: “Apa kabar Bung, masih sanggup membangkang?”

Ia berdiri, tertawa, dan berkata, ”Semuanya selesai, saya sudah monumental!” Aku langsung duduk di sebelahnya. Mukanya terlihat sedikit pucat dan tangan kanannya agak gemetar. Rambutnya yang tidak pernah sebahu sudah dipotongnya seperti tentara.

Matahari sore begitu tenang dan riang menerpa muka kami. Ketika aku menatap pagar kosannya, terali besi, soalah-olah ada seseorang yang memberikan kepadaku kacamata untuk menatap jejak-jejak sol-sol sepatu yang sesekali lewat, letih, dan harap. Aku ingin mengatakan kepadamu bahwa ada yang tidak letih dan harap, aku menatap ke kiri, aku menatap kubah musolah tua yang menempel pada langit biru terang, bersih, sedikit disapu awan putih bersih, dedaunan pohon bambu terdengar menggelisik ditiup angin. Aku menatap ke kanan dan aku mendapati lelaki itu sudah tidak ada.

Sampai sekarang aku masih mendengar suaranya yang lugu dan jujur di kamar sebelah waktu itu: ”Bagi gula, teh, air panas, ama cangkir dua sekalian, sahabat gue datang.” Lalu, aku duduk sendiri di terasnya, mengeluarkan sebungkus rokok mild dari tasku, rokok kesayangannya—siapa tau dia senang. Terali besi, sekejap terlihat transparan, seorang cewek dengan rambut kemerah-merahan dengan stelan yang serba ngetat, pinggulnya menyembul seperti pinggul bebek, melenggang agresif! Gayanya mengingatkan aku kepada seorang pelacur di sebuah trotoar di Jakarta sana, dengan handphone di tangan kanan, mulutnya yang bergincu menyebarkan asap rokok ke udara. Aku berkata pelan, “Kiri…kiri….” Lalu ia memalingkan mukanya kepadaku, seolah-olah ia sudah memasang tarif mahal di punggungnya. Aku diam saja: tidak merasakan apa-apa, juga tidak melihat apa-apa.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa di telingaku, seorang lelaki dengan rambut seperti tentara, kaus putih polos dan celana jins biru pudar yang agak robek di lututnya–Bung yang tadi maksudku–membawa dua cangkir teh yang masih mengepul. Kami duduk berjejeran.

Ia mengeser cangkir putih itu ke depan kakiku, dan meletakkan cangkir yang satu lagi dengan tangannya yang kecil dan sedikit berurat, dengan sentuhan yang hati-hati, ke hadapan kakinya yang bersila.

“Masih sanggup membangkang Bung,” kataku.

“Boleh saya bagi rokok, “ katanya sambil memaling ke mukaku sebentar. Aku meletakkan bungkus rokok ke hadapannya, kataku, “Khusus buat Bung kok.”

“Terimakasih,” katanya. “Sekarang cerita apa yang kau mau dari saya.”

“Gak, nanya-nanya aja Bung.”

“Terkapar! Lu liat ke dalam, asbak rokok, puntung Jarum Coklat, sebatang pula dari pagi. Empat orang teteh juragan warung tebar muka sok jual mahal ke gue. Utang di mana-mana. Barusan ibu nelpon, katanya,’Assalammualikum, Nak. Udah gak bikin masalah lagi. Sudah baikan ama kakak di Bogor. Jakarta gimana. Sudah berhenti merokok.’ Gue jawab, ‘Assalammualikum juga ibu. Sekarang lagi ngerokok. Sehatwalafiat, baik, semua beres. Itu duit tolong dicairkan, buat apa lagi simpanan-simpanan lama itu, anak bungsu ibu mulai gak sanggup ini.’ Besok ting duit di Atm, terus, habis sekali penarikan tunai.”

Aku berdiri, di depan kaca kosannya, yang mengkilat dan berkilau karena cahaya matahari sore. Pura-pura melihat ke dalam kamarnya.

“Sekarang kau liat kabel itu, “ katanya.

Aku memalingkan pandanganku ke kabel yang menyambung dari atap yang satu ke atap yang satu, di antara dua rumah, melihat burung-burung yang berlari kian kemari, bernyanyi.

“Kenapa mereka begitu? Itulah kehidupan, mereka habis nyari makan, main-main sebentar. Dan kau tau , mereka selalu menunggu satu sama lain, kalau gak yang jantan, ya, yang betina. Mereka pasti punya rumah dan beranak pinak, persis seperti puisi Pablo Neruda: Aku tak suka rumah tanpa atap, jendela tanpa kaca/ aku tak suka siang tanpa kerja, malam tanpa tidur/ aku tak suka lelaki tanpa wanita, atau wanita tanpa lelaki/ aku ingin hidup untuk menyalakan ciuman yang tertunda//

Aku diam, menyadari diriku tak bisa memberikan komentar. Aku membakar rokokku. Ia, kulihat, tegukan tehnya yang khas, membakar rokok dengan jari tangannya yang mengunting, korek terbakar, dengan posisi muka memiring. Tulang pipinya nampak menonjol.

“Selama ini saya begitu banyak dikelilingi orang-orang yang ingin meneguk sloki kejayaan dengan cara yang gampangan, tanpa keadilan, senyuman langit, dan canda tawa.”

Aku mengenalnya ketika hari pertama ia masuk rame-rame dengan teman-temannya di kelas A Jurnalistik. Berjalan ke belakang, dosen gak ada, dan ia ngerokok-ngerokok di sudut kelas, dekat jendela. Aku berpikir, ini orang songong benar, sok eksklusif, dan nekat-nekatan pula, tapi bisanya ketawa-ketawa doang. Sewaktu aku praktik lapangan mata kuliah Pak Sahala di Bumi Sangkuriang, ia meminta rekamanku. Padahal aku udah capek-caoek ngejar narasumber ke sana-sini. Dia kulihat cuma ongkang-ongkang kaki, ngerokok-ngerokok, ngobrol-ngobrol dengan teman-temannya. Nyaliku ciut juga waktu itu, ketika dia mendekat ke arahku, dia bilang, “Ntar gue ubah semua omongan narasumbernya. Intinya gue dapat nama orangnya, di media mana dia bekerja, dan sedikit sejarah kewartawanan dia. Bukannya begini cara kerja wartawan demi sebuah kata, deadline.”

Suatu sore pada pengunjung Semester V ketika aku ngobrol dengannya di teras kosannya, aku memberikan sebuah cerita kepadanya: “Kemarin liat si itu di kampus Bung. Sudah dewasa. Pelan dan damai. Pake bendo pula. Kayaknya sebuah perusahaan multinasional yang dinamis di kota sana udah nungguin dia Bung. Tapi udah punya cowok, married statusnya, calon suami konon katanya. Masih mau, kalau Bung gak mau, buat gue aja.”

“Cerita bagus dan kabar baik. Kapan gue cocoknya ke kampus. Besok rame gak? Besok ada gak dia kira-kira?”

Ia lalu berdiri, melangkah ke arah pagar, meningggalkannku yang masih duduk. Ia, dengan kedua belah tanganya, memegang puncak terali besi, dan memandang ke langit.

“Besok Kamis Bung. Gue satu mata kuliah doang. Kampus rame. Pasti adalah.”

Aku kagum pada tindakan-tindakannya yang monumental, yang orang lain tak pernah bisa melakukannya. Mungkin orang lain berpikir, buat apaan yang begitu-begituan, yang penting di dunia kerja. Ia bilang, “Urusan kerja ntar kita perhitungkan, kampus aja urus dulu. Sampai bosan dan Tuhan memberikan hidayah.” Pernah, katanya, ia ngerjain panitia OJ. Di depan ratusan pasang mata, di depan orang-orang yang menunggunya supaya ini orang dapat pelajaran, genting dan lelah, capek, bikin kita sengsara, ia katanya, “Kok malah ketawa. Padahal gue sunguh-sungguh.” Tapi, katanya, “Panitia lebih hebat lagi ketawanya pasti, masalahnya ditahan, jadi sampai ke paha sakitnya, antara sakit dan lucu, bayangkan!”

Aku sering bertanya kepadanya, bagaimana melakukan semua itu. Ia mengatakan, “Baru seperdelapan bagiannya saja itu. Kalau Lu mau liat tujuh perdelapannya lagi, ntar gue ceritakan.”

Aku tanyakan kepadanya, apa yang dimaksud tujuh perdelapan bagiannya itu. Ia menjawab, “Itulah yang dimaksud Hemingway keanggunan puncak gunung es. Masalah seni, susah untuk dijelaskan.”

“Katanya gak mau mengemis.”

“Ini lain kasusnya, ini urusan cinta, dan gak ada remeh temeh di dalamnya, total perjuangan.”

Ketika Kamis itu dia ke kampus, aku duduk di dekatnya. Kanopi kosong, “Ntar ceritanya, cari dulu tempat duduk lain, sebentar lagi dia lewat pasti, seluruh kanopi ini khusus buat dia.” Sebentar lagi cewek itu memang lewat dan ia berdiri, menyapa, ngobrol, sudah seperti salesman. Tapi kayaknya, katanya, “Di mau serius, sedangkan gue apa. Belum bisa nyari duit sendiri. Moga-moga dia bahagia ama suaminya ntar.”

“Kalah dong Bung,” kataku.

“Gak ada yang kalah. Kalah apabila kita membenci manusia, membenci hidup, gak bisa lagi membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Malas berusaha. Kalau lain-lain dari itu, bagian dari perjuangan.”

Dapat apa, tanyaku.

“Cuma dapat sebuah puisi. Lumayan buat cerita-cerita buat anak istri sebelum tidur ntar.”

Ia menyuruhku diam, tenang, dan konsentrasi.

Aku diam, tenang, dan konsentrasi.

Di bukit-bukit aku menanak batu

Di bukit-bukit aku mencoba melupakanmu

Wajahmu, hanya wajahmu yang menghampar di kehijauan

Wajahmu, hanya wajahmu yang terlukis di tikungan

Langit tidak bercahaya, awan tidak putih bersih

Hingga malam tiba, aku merasa sendiri, dingin dan berembun

Malam tiba, gelap tiba di tikungan

Lampu satu-satunya mulai bercahaya, menabur di tikungan

Menaburkan cahayanya ke mukaku dan berkata: Lupakanlah!

“Keren Bung, tapi pilu.”

“”Gombal” terkeren yang pernah saya ciptakan. Bukan pilu, pilu udah gak jaman, melankolis sekarang.”

Ia tertawa.

“Kok ketawa,” kataku.

“Ya. Hiburan itu. Menangis terlalu jujur. Kebanyakan menangis bikin kita malas. Ayo…ayo…teruslah ketawa, sampai perut Lu sakit.”

Aku sudah lama rasanya duduk di teras kosannya. Bungkus rokok sudah kosong dan teh hanya tinggal cangkirnya, dua cangkir putih. Kami sama-sama menatap pagar berterali besi. Langit tidak lagi terang dan biru, awan tak lagi putih bersih. Langit perak dan awan sedikit memerah. Sebentar lagi Magrib, anak-anak sudah mandi, riang dan ceria, hendak mengaji. Dan aku sudah tidak bisa lagi menatap. Aku tak bisa lagi menatap, aku tak bisa lagi menatap, langit sudah gelap dan lampu-lampu, satu-satu menyala, dan terang dalam gelap.

“Tepat kan puisi gue, Lu liat lampu itu dan Lu liat malam itu. Semester depan pasti ada yang lebih baik lagi.”

———————————————————————————-

II.

Semester VI kosannya sudah pindah. Suatu malam, aku mengajaknya ke sebuah warung BKI di Ciseke. Sebuah warung tempat biasa kami menghabiskan malam-malam sehabis kuliah di Jurnalistik yang melelahkan tapi menyenangkan itu.

Pucuk-pucuk pohon pisang bergoyang tertiup angin, tidak hijau dan malam. Malam, sebuah kebun yang isinya entah apa, yang tidak pernah diurus, juga tidak begitu terlihat. Air meraung di kali kecil yang tak jauh dari sana; meraung dan memecah pada semen-semen dan batu-batu. Sewaktu kami duduk, warung sepi, Aanya bermuka serius menghitung bungkus-bungkus kopinya yang digantung di tali rapiah.

“Mainkan susu putih dua gelas. Ama mild sebungkus!”

Aku menanyakan kepadanya bagaimana SP. Baik, katanya, lebih ringan dan kita musti punya sedikit kesabaran nunggu dosen.

“Bagaimana desa, KKN, ketemu. Preman-preman lokal gimana. Anak-anak motornya bagaimana, menganggu?”

“Biasa, kurang beruntung. Desa sebelah kayaknya lebih berungtung.”

“Sungai bagaimana, pohon-pohon, bulan, bintang, dan lain-lain.”

“Gak pernah liat bulan, kebanyakan main PS2.”

Aa kayaknya lagi bertengkar dengan istrinya barusan, jadi kaku benar ia meletakkan gelas susu di hadapan kami dan rokoknya pun salah, jarum coklat pula yang diletakkannya di meja.

Aku tertawa. “Kok bisa?”

“Bisa aja, jangan-jangan dia gak tidur dua hari dua malam mikirin warung mau bangkrut.”

“Kurang pemasarannya. Kurang moderen. Muka selalu serius. Kebanyakan cowok kalau malam sih. Yang kacau-kacau pula. Yang lagi mabuklah. Yang habis diputusin, habis bikin blog tapi gak bagus, dan segala macam. Jangan-jangan setan pun pernah masuk warung ini, Bung.”

“Gak mungkin, setan takut ama dia.”

Akhirnya Aa keluar dengan lemparan mengagetkan di mejaku, sebungkus rokok mild, sebuah korek.

“Cerita lagi Bung,” kataku. “Masa gak ada perkembangan.”

Ia membakar sebatang rokok. “Cerita apa? Puisi, kau kira makan puisi anak orang. Dia maunya serius. Gue gak bisa. Sungguh sungguh bisa, perhatian dikit bisalah. Udah makan belum, habis kuliah apa, bagaimana photo yang gue editin kemarin, bagus gak: itu cara sudah dipakai ama pecundang-pecundang amatiran lain di FIKOM sana. Cantik deh, lucu, gak laku lagi. Basi. Buku sebagai simbol intelektual, lagu sebagai simbol keringanan, film sebagai simbol canda tawa dan tangis; kau tahu, itu nanti akan tersusun rapi ke dalam sebuah kotak karton yang pitanya bewarna merah jambu.“

“Bagus itu Bung.”

“Tapi ini berbahaya, genting dan darurat: kayak Rumah Sakit di Padang, saya sering minta obat gratis sewaktu SMA dulu. Orange dan putih kedip lampu di bukit-bukit. Kemarin gue liat IPK gue, orange warnanya, IPK dia putih, mata gue berkedip, terus gue merasa tinggi dan serasa di bukit. Malam mata gue gak mau tidur, gue liat langit, gak berbintang, tapi kemarin ada bintangnya. Gue liat lagi bukit, dan emang orange dan putih kedip lampu di sana. Tapi kalau siang semuanya bakalan hilang. Persis seperti sebuah puisi saya: aku ingin mencintaimu seperti embun yang memandikan rumput-rumput; tak serupa pamflet atau corat coret dinding. Aku ingin mencintaimu seperti embun, yang hilang karena siang, yang esok malam pasti kembali. Berarti ini nyata, bukan “gombal” lagi.”

Aku diam dan berjalan keluar. Bosan juga dengar ceritanya, perjuangan terus, dari semester tiga selalu itu ke itu saja. Berdiri tanpa rokok, aku memangku tanganku sendiri, aku melipatnya di depan, memagut dadaku. Dingin dan berembun. Bajuku dibelai angin dan dingin. Dia tiba-tiba berdiri di sebelahku. Katanya, “Ia maunya yang spesial. Gue gak ngerti spesial itu apa. Martabak manis spesial gue ngerti. Masalahnya dulu sering beli.”

Aku diam dan terus saja memandang langit, memandang sebuah kosan bertingkat putih yang lampu-lampu kamarnya mulai mengelap dan remang-remang.

“Pablo Neruda, Bung,” kataku.

“Apaan itu, pembual paling sukses se-Latin emang. Semuanya kena ama dia. Kuliah di Paris, di sana pula dia ting: baju kuliah teramat rapi, langkah kaki terasa sunyi, susu melimpah anugerah surgawi. Ikut perang katanya ke Spanyol, padahal kagak mah. Niatnya pengen ketemu Lorca, penyair yang lebih “gila” lagi dari dia, masa gak percaya wanita gara-gara ketahuan pacarnya gak perawan. Terus, Don Pablo menangis karena Lorca dikalahkan pangeran Franco, ditembak pake pistol dan pecah kepalanya. Pangeran Franco cemburu, karena takut Lorca mau merayu Ibunya, Ratu Spanyol.”

“Terus?”

“Don Pablo pulang ke Latin, jadi pembual di sana, kacau semua cewek sana ama dia, tiap perempatan katanya di Latin dia main gombal-gomabalan.”

“Pekerja keras itu Bung.”

“Gak, hampir jadi Presiden Cile itu , kalau dia yang jadi presiden, bisa kacau negara, dikasih makan puisi seluruh rakyat ama dia.”

“Tapi gombalnya keren Bung.”

“Ini,” katanya sambil mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya.

“Gombal paling keren yang pernah diciptakan Pablo Neruda sewaktu dia suka ama cewek Cuba.

I like for you to be still

It is as though you are absent

Distant and full of sorrow

So you would’ve died

One word then, one smile is enough

And I’m happy;

Happy that it’s not true.

Sahabat, Saya, dan Malam Merdeka

Thursday, August 16th, 2007

Ada yang lain rasanya pada diriku setelah menenyelesaikan empat mata kuliah, semuanya tiga SKS, suatu rasa yang membawa kita melancong ke Harvard.

ujung-ujung daun-daun

pucuk-pucuk daun-daun

angin menghembus di urat nadiku:

daun daun: ujung ujung pucuk pucuk

Dan, belum juga datang pucuk dicinta ulam pun tiba

Tidak, sama sekali tidak. Saya, Samuel, dan Nanda nongkrong di FIKOM, dekat nilai on-line.

"Bagaimana Bung," kata Sam. "Katanya sudah monumental."

"Monumental apaan, yang duniawi aja mulai kehabisan puisi."

"Gue barusan ngeliat yang surgawi Bung."

"Nah, bagus itu. Jangan-jangan sayap-sayap malaikat, itu juga orangnya."

"Gak, sebening gelas kristal. Bawa bokap nyokap."

"Ke Saiyo aja," kata Nanda

———————————————————————————-

Di Saiyo, sehabis makan, ngobrol masalah kuliah-menguliah dan Kuliah Kerja Nyata, dan kabar-kabari lainnya. Kuliah beres dan KKN bagaimana?

"Sukses besar," kata Nanda

"Dan berapa orang yang terkapar, Pancaroba."

———————————————————————————-

Dari Saiyo, berjalan saya dengan Nanda, pada siang yang terik dan angin kering dan dingin, di sepanjang trotoar depan Saiyo, lalu ke kosan, Warung Kalde. Melambai dan angin bertiup, debu-debu, di pagar-pagar, dengan tiang bambu: bendera Merah Putih dan Umbul-Umbul warna-warni, berjejeran. Saya lihat, remaja-remaja, kurang lebih sepuluh, otak-atik bambu. Menurut keterangan mereka, buat pawai besok.

"17 agustusan A’."

Merdeka 100%.

Terus, berjalan beberapa langkah, beli rokok dulu. Nyampe di kosan, sebelum melaju ke lantai dua, masak air panas pake kompor di dapur, lantai bawah. Menunggu.

Ibu pernah bilang, "Buat latihan kesabaran."

Selesai.

Mengepul dari dua cangkir asap yang tak begitu putih. Sebungkus rokok mild terletak, menanti, di meja.

"Ini seperti apartemen, tapi agak beda dari apartemen Andreas Harsono, dia mah termasuk flamboyan."

"Motor ketinggalan di Subang. Body-nya patah."

"Bisa patah."

"Maksud hati baik, ya, ane kan ada motor. Dibilangin, kalau ada perlu pake aja. Dipake buat hura-hura, mabok-mabokan ke kali ama dia, boncengan, jalan batu-batu gitu. Rp 300 ribu! Duit lagi."

"Kira-kira gimana kesepakatannya."

"Ya…dia mau bayar setengahnya."

———————————————————————————-

Sorenya Nanda pulang.

Tiba-tiba saya teringat Ode to the Sea.

Dan saya ke bawah, ke kamar Agus.

"Kemarin maennya bagus," katanya.

"Seperdelapan bagian, habis pembersihan dada di Bogor, sekarang gue mau minjam gitar."

"Sok, ambil aja."

———————————————————————————-

Kembali saya ke apartemen kecil saya, sendiri.

Sepi di luar, sepi menekan-mendesak

Lurus-kaku pohonan Tak bergerak

Sampai ke puncak

sepi memagut

Tak suatu kuasa-berani melepas diri

Segala menanti. Menanti-menanti.

Sepi.

Dan ini menanti penghabisan mencekik

Memberat-mencekung punda

Udara bertuba

Rontok-gugur segala. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

                                    (Hampa, Chairil Anwar)

———————————————————————————-

Benar-benar ingin mengenang laut rasanya, tapi, kali ini bukan laut tok. Bukan: laut seluruhnya. Ada seseorang yang musti kukenang.

Saya keluar dari kamar. Berjalan ke bawah. Berjalan hingga ke kedai. Pesan rokok ke Mbak, dan saya bilang, "Boleh maen gitar gak, depan warung?"

"Sok," katanya. "Tapi gratis."

Di kursi goyang rotan yang sudah reot, sembari membakar rokok, saya, dengan gitar di tangan, melihat remaja yang akrab, kerjasama dalam keakraban, semangat 45. Walau berdebu sekalipun tiupan angin.

Mata Dewa

Iwan Fals

Di atas pasir senja pantai kuta

Saat kau rebah di bahu kiriku

Helai rambutmu halangi khusyukku

Nikmati ramah mentari yang pulang

Seperti mata dewa… seperti mata dewa

seperti mata dewa… seperti mata dewa

Aku berdiri tinggalkan dirimu

Waktu sinarnya jatuh di jiwaku

Gemuruh ombak sadarkan sombongku

Ajaklah aku wahai sang perkasa

Seperti mata dewa…seperti mata dewa

seperti mata dewa…seperti mata dewa

Reff:

Yang menangis tinggalkan diriku

Yang menangis lepaskanlah aku

Yang menangis tinggalkan diriku

Yang menangis lepaskanlah aku

Senja di hati

Lidah gelombang jilati mukaku

Belaian karang sampai di tubuhku

Jingga matahari ajak aku pergi

Kasihmu tulus setulus indahmu

Seperti mata dewa

seperti mata dewa

seperti mata dewa

seperti mata dewa

Reff:

Yang menangis tinggalkan diriku

Yang menangis lepaskanlah aku

Yang menangis tinggalkan diriku

Yang menangis lepaskanlah aku

Senja di hati

Seperti mata dewa… seperti mata dewa

———————————————————————————-

Sehabis sebuah lagu itu, saya mengembalikan gitar ke kamar Agus. Saya membeli rokok sebatang lagi. Lalu berjalan pelan-pelan ke arah danau kecil. Berjalan terus, sembari melihat sawah, pucuk pohon pisang, lembah, bukit, dan kehijauan daun-daun.

Milik siapa hutan ini aku rasa aku tahu

tahu

Rumahnya di desa ini, namun;

Dia tak kan melihatku berhenti di

sini

Untuk menyaksikan hutannya

penuh dengan salju.

Kuda kecilku pasti berpikir ini

aneh

Untuk berhenti tanpa ada

peternakan di dekatnya

Antara hutan dan danau beku

Sore paling gelap di tahun ini

Kudaku menggoyangkan talinya

Untuk bertanya apakah ada

kesalahan

Suara lain yang ada hanya desiran

Angin lembut dan butir salju

halus.

Hutannya indah, gelap dan dalam

Tapi aku punya janji yang

kupegang

Dan bermil-mil sebelum aku tidur

Dan bermil-mil sebelum aku tidur.

(Stopping by Woods on a Snowy Evening, Robert Frost)

———————————————————————————-

Selesai makan malam di Saiyo, saya berdiri sejenak di depannya. Saya memandang, berderet bendera Merah Putih, berselang seling dengan Umbul-Umbul warna warni. Cahaya mobil-mobil dan menyilaukan, besiliweran. Seakan-akan mereka akan menyalipku.

Sebuah mol, bendera iklan lebih kencang lamabaiannya daripada bendera Merah Putih dengan bendera umbul-umbul warna-warni.  Terhiasi lampu-lampu iklan nama-nama Amerika dan Jepang, sebuah mol. Orang-orang lalu-lalang dengan aneka dandanan, dan tampak seolah-olahan bagiku, di bawah semburan cahaya lampu jalanan dan silauan lampu kendaraan, sebuah mol. Transparan, pada dindingnya, tinggi; pada kacanya, meriah dan mengkilat, orang-orang lalu-lalang, sebuah mol. SPG (Sales Promotion Girl), sebuah mol!

Terasa hari akan jadi malam,

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

di pukul angin yang terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan,

sudah berapa waktu bukan kanak lagi,

tapi dulu memang ada suatu bahan,

bukan dasar perhitungan kini.

hidup hanya menunda kekalahan,

tambah terasing dari cinta sekolah rendah,

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,

sebelum akhirnya kita menyerah.

                       (Derai-Derai Cemara, Chairil Anwar)

———————————————————————————-

Dari tempat saya berdiri, saya kembali pulang. Berjalan lagi seperti tadi siang. Duduk lagi seperti tadi sore. Masih, para remaja dalam keakraban. Dan malam, malam, lampu menaburkan cahaya putih ke mukaku. Saya duduk lagi di kursi goyang rotan tadi sore, tanpa gitar. Kembali.

"Teh hangat ama rokok sebatang."

"Gak setengah A’," kata Mbak.

"Dada baru bersih."

Tak berapa lama, dengan sebuah meja Mbak datang, meletakkan secangkir teh dan sebatang rokok, teriringin sura malam oleh lemparan ringan sebuah rorek api, tergeletak di atas meja, mengersik di tripleknya. Angin terasa sejuk dan suaru deru-menderu kendaraan dari jalanan seolah-olah terekam pada tembok mati di seberang sana, jauh sekali dari tempat saya duduk.

Saya duduk, mengecup teh, memandang langit nan tinggi.

PAGI (Sajak IV)

engkau sesederhana sebelah tanganmu

mungil, duniawi, transparan, bulat.

gurat apel, lingkar bulan.

engkau sesederhana malam-malam di Jatinangor

adakalanya berbintang, adakalanya tidak.

awalnya kubilang ya,

lalu tidak,

lalu tidak;

tidak,

lalu iya.

malam di Jatinangor yang sederhana:

orange dan putih kedip lampu di bukit-bukit

banyak pilihan tempat buat makan,

angkotnya murah.

Dan, sebuah saja tempat yang nyaman untuk singgah;

entah itu kamarmu, entah itu kamar temanmu.

sesederhana baju coklatmu:

tiada bergambar

sesederhana kamarmu mungkin:

gak ada gitar, gak ada piano, atau biola.

melambai, teruslah engkau melambai

meliuklah seperti sewaktu engkau dilahirkan

melankolis seperti sewaktu dicium ibumu

pertamakali.

Melambai, teruslah engkau melambai

melambai engkau sesederhana padi-padi di sawah nan hijau:

diselimuti pagi.

Melambai engkau: Menggelisik ditiup angin

———————————————————————————-

Saya masih duduk dan rokok sudah habis, teh tinggal setengah. Ibu-ibu datang dan menanyakan kepada saya, jadi apa kagak meliput pawai besok pagi. Saya bingung, apakah mereka bisa membaca liputan saya. Saya kan cuma bisa reportase di blog. Dan, tak ada waktulah untuk buatkan kertas bulletinnya.

Salah seorang dari mereka berkata: "Di sini cuma kesenian lokal."

Saya jadi teringat sewaktu SD. Saya sudah minta kepada ibu guru untuk jadi petani, seperti ayah saya; tapi saya diberikan baju ulama. Saya gak mau dan tidak jadi ikut pawai.

———————————————————————————-

Saya masih duduk dan saya berpikir, andai malam: kepada malam: ini bermula pada pagi. Dan pasti, akan datang juga siang.

Untuk Setangkai Ice Crime

kepada pagi: tentunya

termangu dan melamun

melamun dan dilamun

hadir atau tiada hadir

padi-padi nan hijau

basah lalu kering diterik mentari

lambaianmu terlihat rendah hati.

Pejam mataku, pejam matamu

pada sol sepatunya nan sunyi

ada laguku

lagu dan tangga

nada

pada langkahnya nan sunyi

ada laguku

———————————————————————————-

Ya, kelamaan di warnet kepergok pula ama Imam nanti. Atau lebih lama lagi, kepergok ama Kak Mimit. Sudah jam tayang mereka.

Atau, apabila kurang beruntung, ketahuan ama Kang De, bilang, "Ngapain No, malam-malam ngetik. Siapa tau No ya, jadi terkenal."

Ya, siapa tau, sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui.

Kalau diulang lagi ama Kang De, saya menjawab begini: "Selamat malam Karl Marx, di sini Abdullah Munsyi, "gila" mana?"

———————————————————————————-

buat Pagi dan Untuk Setangkai Ice Crime

THE AMULET

Ralph Waldo Emerson

Your picture smiles as first it smiled,

The ring you gave is still the same,

Your letter tells, O changing child,

No tiddings since it came.

Give me an amulet

That keeps intelligence with you

Red when you love, and rosier red

And when you love not, pale and blue.

Alas, that neither bonds nor vows

Can certify possesion;

Torments me still the fear that love

Died in its last expression.

SUNSANG

Monday, August 13th, 2007

Di kedai kopi barusan. Aku tak punya alasan lain, kecuali, musti kukatakan, kafe-kafe musikal tidak lagi menyentuh pada diriku  malam ini. Segelas kopi pada cangkir hitam dan kita disuguhi pemandangan: wanita seksi dengan senyuman sungging mengatakan: silahkan, minuman yang paling Lu suka; dapat kutampik dengan minuman sederhana: secangkir teh hangat dan sebatang rokok, berputar asap putih ke langit-langit kedai, dan hiasan satu-satu di depan mata hanyalah koran pagi tadi.

Habis dari Jakarta, aku terlentang di kasur, tertidur. Sebelumnya, di atas bis, aku berpikir, ternyata gak jadi masuk tabung. Di Bogor, kakakku sudah pula menertawakanku, ah gak apa-apa, katanya. Tapi ini, kataku: nyat-nyut di kepala, dada sakit, punggung  sakit, pikiran kacau, sandal belang, pintu kosan copot, ember pecah dua, gelas gak tau melayang ke mana,  dan baju bisa ketinggalan di jendela.

Di kedai kopi aku berpikir, dalam jenak itu, aku, sebisa mungkin, ke depannya, duluan meneleponnya. Hubungan kami begitu mesra, seperti sepasang kekasih yang tak bertemu selama tujuh tahun, dan sekarang ngobrol (dia bukan pacarku, melainkan ibuku).

Dan, sekarang setelah mengetahui IPK-ku sudah di-list putih, aku tidak menginginkan yang di luar batas kemampuan diriku. Semuanya menjadi nampak serba kaku dan asing, aku tertawa sendiri di malam buta, merangkak mencari cerita kesayanganku bila mata gak bisa tidur, Father and Son.

Aku belum bisa mengatakan kepada seorang wanita di Jakarta sana, ya udah, berkibar dan terbakar bila itu yang terjadi, bila itu maunya Ratu Inggris: seperti syair Abdullah Munsyi Terbakar, Singapura Terbakar.

Aku cuma satu semester punya IPK di atas Dua, Semester I; dalam keadaan diejek di sana-sini, aku  terbungkam dan pernah dikatakan cuma bisa nulis-nulis puisi doang, goda-godain cewek di testi, dan ketawa-ketiwi besoknya di kampus, bilang,"Kena itu ama gue!" . Tak masalah bagiku. Agama, Filsafat, Politik, Ekonomi, Sejarah, dan lain-lain: menurutku bakalan masuk angin dan keriput bila tak diletakkan di rak yang paling tinggi sebuah deretan buku-buku: Sastra.

Semuanya setali tiga uang. Albert Camus pernah berseru: "Untuk Perjuangan, Keadilan, dan Cinta."

Dan, Anda tahu, siapa filsuf yang pernah bisa menjadi Nabi dan menghilangkan salah satu dari setali tiga uang tersebut, dia adalah Karl Marx–gue gak pernah bisa membayangkan Marx bisa tertawa riang; tawanya kalau gak mengejek, ya memusuhi.

Lalu, usaha-usaha untuk mencopot setali tiga uang tersebut terus terjadi, mula-mula dilakukan oleh Stalin (yg terbesar), dan yang paling monumental kemudian adalah Hitler–kalau ketemu ama gue di Warung Kalde pas lagi sendiri lawan sendiri, gue cukur pake pisau itu kumis dan terlemparlah ke Waduk Perikanan sana.

Nampaknya, sebuah anggukan di kepala Aa barusan membuatku sadar, bahwa itu semua, musti dibayar besok, pas mau berangkat kuliah. Dan duit di saku celana pendek buat ekspresi di blog.

Atau, saat aku mengenang semua kejadian-kejadian yang silam, yang berangkat dari nostalgia belaka, dua hari dua malam gak tidur–tidur juga sih, sejam dua jam, tapi antara iya dan tidak–aku berkata paginya: untuk apa? Gue bakar ini kertas-kertas, semuanya sudah melampuai tulus dan semuanya sudah menjadi ambisi tak terkendali, dan saya gak bisa, terbakarlah engkau kertas-kertas seperti syair Abdullah Munsyi, Singapura Terbakar!

Saat aku memencet delete pada judul blogku, Dua Obrolan pada Sore dan Malam Hari, Semuanya Setali Tiga Uang; dua orang itu bertengkar, pada penghabisan obrolan, apa musti tuliskan puisi Lorca, Perempuan Tak Setia; atau Pablo Neruda, I Like for You to Be Still.

Dan, Warnet ini bercatkan merah jambu pada malam ini, aku teramat ingin menyelimuti tirai putih di antara dua sudut dindingnya, dan aku, dengan kuas mungil yang kupunya menulis:


I Like For You To Be Still

Pablo Neruda

Translated by W.S. Merwin

I like for you to be still
It is as though you are absent
And you hear me from far away
And my voice does not touch you
It seems as though your eyes had flown away
And it seems that a kiss had sealed your mouth
As all things are filled with my soul
You emerge from the things
Filled with my soul
You are like my soul
A butterfly of dream
And you are like the word: Melancholy

I like for you to be still
And you seem far away
It sounds as though you are lamenting
A butterfly cooing like a dove
And you hear me from far away
And my voice does not reach you
Let me come to be still in your silence
And let me talk to you with your silence
That is bright as a lamp
Simple, as a ring
You are like the night
With its stillness and constellations
Your silence is that of a star
As remote and candid

I like for you to be still
It is as though you are absent
Distant and full of sorrow
So you would’ve died
One word then, One smile is enough
And I’m happy;
Happy that it’s not true