RUMAH KECIL TAPI LUAS
Sepertinya ada yang tak paham dengan rumah kecil tapi luas.
Bukan maksud hati berandai-andai, tapi memang demikianlah sejak dahulu saya cita-citakan. Dalam pikiran saya, sesudah agak bosan bertualangan kesana-kemari, seiring rambut terselubungi uban nantinya dan tulang mulai melapuk; saya ada rencana akan dirikan rumah di atas sepetak tanah, kira-kira seperti ini:
Beli tanah di daerah pedalaman kan murah tuh, kita tak perlu ngutang di bank. Sesudah tanah dibeli, saya bikinlah rumah dengan tangan sendiri: maksudnya saya sebagai desainer; sebagai pembeli semen, kayu, dan lain-lain; saya sebagai tukangnya; lalu, penghuninya saya juga.
Sesudah rumah selesai, karena tanah yang saya beli luas, saya otomatis punya lahan yang luas. Di halaman saya bikin taman sedemikian rupa; di samping dan kanan dan kiri, pohon-pohon berderet; kemudian di belakang ada kandang ayam, kolam ikan dan kebun kecil-kecilan, hasilnya untuk makan sendiri.
Untuk menjalani keseharian, bangun Subuh saya Sholat dan berdoa. Kasih makan ayam dan ikan, otak-atik kebun sebentar, dan matahari akan naik: saya balik ke dalam rumah. Mandi dan makan. Sholat lagi dan baca buku buku sebentar. Sore datang, saya sholat lagi dan kasih makan ayam dan ikan, otak-atik kebun lagi. Maka sinar matahari pelan-pelan menyentuh punggung saya dan malam menyambut, langit kelam dan awan nampak hitam, dan bulan bersinar, dan bintang bersinar kelap-kelip– berarti saya harus mandi lagi. Sholat lagi dan makan. Merenung-renung sebentar sambil minum teh hangat. Sholat lagi, dan doa agak dilamakan. Sesudah itu, baru nulis sampai mengantuk. Dan besoknya akan seperti itu lagi. Seperti itu lagi sampai saya meninggal– saya harus punya seorang pembantu yang setia untuk menguburkan badan saya.
Berarti, saya tak punya urusan. Juga saya tidak terlibat spekulasi-spekulasi. Gosip-gosip murahan dan buku kiat-kiat saya campakkan. Yang ada hanyalah diri sendiri berhadapan dengan alam, diri sendiri akan langsung berhadapan dengan Tuhan.
—OOO—
Hal di atas tentu sangat terikat kondisi saya juga. Andai Tuhan tidak mengizinkan saya hidup lama, rencana di atas otomatis hilang. Atau rencana itu juga bisa berubah-rubah. Misalnya saya terlanjur sayang pada seseorang, tentu tak bisa pula saya bersikeras.
Selebihnya, rencana itu sangat terikat ambisi. Kalau ambisi ntar menggebu-gebu, mau tak mau kita pun harus berjuang.
Lalu, izinkanlah saya tertawa agak sebentar dan meminum susu putih. Dan mengertilah, tak ada yang tak bisa di dunia ini.
August 24th, 2006 at 10:57 pm
Wah melihat rencana yang juga seperti cita-cita itu, atau memang benar cita-cita, saya melihat terdapat kejengahan,kejenuhan, bahkan ketakutan yang menyelubungi pikiran Bung Kono ini.Jika Bung Kono bercita-cita seperti itu berarti Bung Kono mengingkari “takdir” manusia sebagai makhluk sosial.Saya cukup mengerti dengan pikiran Bung Kono mengenai kenyataan dunia yang aneh ini.Saya pun merasakan hal yang sama tentang dunia ini.Namun, kita tak bisa lepas dari kehidupan sosial.Kita menjadi makhluk sosial karena kebutuhan.Kita butuh untuk bersosialisasi.Selain untuk memenuhi kebutuhan fisik,kita juga butuh untuk memenuhi kebutuhan psikologis,yaitu dengan jalan bersosialisasi itu tadi.
Selain itu,seperti kata si Hegelian muda,bahwa kita butuh objek material untuk mengembangkan hakikat kita sebagai manusia.Nah, salah satunya objek material itu ialah manusia lain selain kita sebagai individu.
Pemikiran yang kita miliki tidak akan ada gunanya jika tidak diterapkan pada ranah konkret,salah satunya dengan berdialog dan dialektika.
Cita-cita Bung Kono ini sangat egosentris.Hanya mementingkan dirinya sendiri dan pesimis menghadapi kehidupan di dunia.Seperti lari dari kenyataan yang memang seperti ini.Dan tidak mungkin kita lari dari kenyataan.Kita harus menghadapinya.Menurut saya, daripada kita sibuk dengan kesendirian, kontemplasi kita,sudah saatnya kita mengubah kenyataan yang tidak adil ini.Kenyataan yang tidak sesuai dengan idel-ideal kita.Kenyataan yang memang “disutradarai” oleh “yang berkuasa”.
October 22nd, 2008 at 8:40 am
cita-cita kita sama mas. luar biasa jika bisa mewujudkannya