RUMAH KECIL TAPI LUAS
Saturday, August 19th, 2006Sepertinya ada yang tak paham dengan rumah kecil tapi luas.
Bukan maksud hati berandai-andai, tapi memang demikianlah sejak dahulu saya cita-citakan. Dalam pikiran saya, sesudah agak bosan bertualangan kesana-kemari, seiring rambut terselubungi uban nantinya dan tulang mulai melapuk; saya ada rencana akan dirikan rumah di atas sepetak tanah, kira-kira seperti ini:
Beli tanah di daerah pedalaman kan murah tuh, kita tak perlu ngutang di bank. Sesudah tanah dibeli, saya bikinlah rumah dengan tangan sendiri: maksudnya saya sebagai desainer; sebagai pembeli semen, kayu, dan lain-lain; saya sebagai tukangnya; lalu, penghuninya saya juga.
Sesudah rumah selesai, karena tanah yang saya beli luas, saya otomatis punya lahan yang luas. Di halaman saya bikin taman sedemikian rupa; di samping dan kanan dan kiri, pohon-pohon berderet; kemudian di belakang ada kandang ayam, kolam ikan dan kebun kecil-kecilan, hasilnya untuk makan sendiri.
Untuk menjalani keseharian, bangun Subuh saya Sholat dan berdoa. Kasih makan ayam dan ikan, otak-atik kebun sebentar, dan matahari akan naik: saya balik ke dalam rumah. Mandi dan makan. Sholat lagi dan baca buku buku sebentar. Sore datang, saya sholat lagi dan kasih makan ayam dan ikan, otak-atik kebun lagi. Maka sinar matahari pelan-pelan menyentuh punggung saya dan malam menyambut, langit kelam dan awan nampak hitam, dan bulan bersinar, dan bintang bersinar kelap-kelip– berarti saya harus mandi lagi. Sholat lagi dan makan. Merenung-renung sebentar sambil minum teh hangat. Sholat lagi, dan doa agak dilamakan. Sesudah itu, baru nulis sampai mengantuk. Dan besoknya akan seperti itu lagi. Seperti itu lagi sampai saya meninggal– saya harus punya seorang pembantu yang setia untuk menguburkan badan saya.
Berarti, saya tak punya urusan. Juga saya tidak terlibat spekulasi-spekulasi. Gosip-gosip murahan dan buku kiat-kiat saya campakkan. Yang ada hanyalah diri sendiri berhadapan dengan alam, diri sendiri akan langsung berhadapan dengan Tuhan.
—OOO—
Hal di atas tentu sangat terikat kondisi saya juga. Andai Tuhan tidak mengizinkan saya hidup lama, rencana di atas otomatis hilang. Atau rencana itu juga bisa berubah-rubah. Misalnya saya terlanjur sayang pada seseorang, tentu tak bisa pula saya bersikeras.
Selebihnya, rencana itu sangat terikat ambisi. Kalau ambisi ntar menggebu-gebu, mau tak mau kita pun harus berjuang.
Lalu, izinkanlah saya tertawa agak sebentar dan meminum susu putih. Dan mengertilah, tak ada yang tak bisa di dunia ini.